lobalisasi dalam aspek politik dan budaya
Meskipun globalisasi secara umum identik dengan aspek ekonomi, tidak meragukan lagi jika gerakan ini juga mencakup nilai-nilai politik dan budaya. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada proses awal globalisasi, namun masih tetap berjalan hingga sekarang.
Aspek politik
Munculnya interdepensi antar bangsa-bangsa akibat globalisasi, banyak pemerintah yang menyesuaikan sistem perpolitikannya dengan pendekatan transnasional. Ada dua cara untuk melakukannya: pertama, dengan cara mengintegrasikan sistem politik dalam negeri ke dalam sistem politik transnasional, atau kedua, dengan mengatur persamaan-persamaan yang ada dalam sistem nasional ke dalam entitas politik transnasional (Bamyeh, 2000, p.1). Metode pertama menggunakan sistem politik lokal sebagai dasar integrasi, sedangkan yang kedua menggunakan standar global sebagai bentuk dari sistem politik.
Metode pertama dapat dijelaskan dengan melihat kecenderungan di beberapa negara untuk membuat organisasi berdasarkan persamaan yang dimiliki. Organisasi regional seperti Uni Eropa atau Liga Arab adalah contoh dimana beberapa Negara mencoba untuk mengintegrasikan kepentingannya dalam ranah politik. Organisasi semacam ini tidak melulu mempertimbangkan kepentingan politik, tetapi juga ekonomi, keamanan, pendidikan, dan aspek-aspek lainnya. Namun demikian, alas an politik menjadi alasan terkuat untuk integrasi khususnya untuk meningkatkan posisi tawarnya dalam kompetisi internasional. Di sini, akar sistem politik nasional masih kuat dan terjaga oleh masing-masing anggota organisasi.
Sebaliknya, metode kedua dilakukan dengan cara mengadopsi bentuk standar global pemerintahan (Bamyeh, 2000, p.3). Pada titik ini, akar dari sistem politik lokal tidak lagi dominan. Untuk menjelaskan fenomena tersebut, alih demokrasi di dunia mungkin dapat menjadi contoh yang baik. Setelah Perang Dingin, yang ditandai dengan jatuhnya komunis, demokrasi menyebar luas. Banyak Negara mencoba untuk mengadopsi ideologi ini sebagai bukti bahwa mereka mengikuti angin kemenangan demokrasi. Dalam hal ini, demokratisasi menjadi isu yang esensial dalam konteks globalisasi. Namun demikian, tampaknya beberapa negara tidak menularkan demokrasi dengan mempertimbangkan kondisi terkini. Dalam beberapa hal, proses adopsi standard politik global tidak sukarela. Beberapa Negara mencoba untuk mendorong penerapan demokrasi di Negara lain dengan menggunakan senjata. Hal ini menunjukkan bukti bahwa globalisasi dalam hal politik tidak selalu berjalan lancar.
Terkait dengan pelaku, globalisasi dalam hal politik tidak hanya dilakukan oleh pemerintah tetapi juga oleh agen internasional. Peran organisasi dunia seperti Persatuan Bangsa-bangsa, the International Monetary Fund (IMF), the World Trade Organization (WTO), dan organisasi dunia lainnya memberikan pengaruh untuk mendorong, langsung maupun tidak, para anggota negara tersebut untuk mengikuti arus gerakan globalisasi. Sebagai missal, IMF menjadikan instrument demokrasi sebagai prasyarat untuk mendapatkan utang (Jones and Hardstaff, 2005, p.6).
http://www.pksi.depkeu.go.id/pub.asp?id=15
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar